![]() |
| Sumber: Republika.co.id |
Oleh: Aji Muhammad Iqbal
Pagi hari, tepat di hari raya iedul fitri 1440 H, suasana damai, diiringi lantunan takbir dari Toa Masjid yang menggema dimana-mana, dengan mengenakan baju koko putih, peci hitam nasional, sarung kotak-kotak, aku bergegas berangkat ke masjid, masjid itu bernama Masjid Husnul Khotimah, Masjid yang menjadi tempat dan mendidikku saat kecil, belajar 'alif, ba, ta, tsa', nadhoman, do'a-do'a keseharian, hingga 'jampe-jampe sholat'. Tak lupa untuk menambah rasa percaya diri, aku mengenakan minyak wangi pada waktu itu, hatiku tampak tenang, dibingkai dengan wajah berseri, penuh pengharapan.
"Wilujeung sumping dintenan fitri, mugia sadayana amal ibadah abdi, kulawargi abdi, guru-guru abdi dina sasih saum aya dina panampian Allah SWT," hatiku berbisik.
Sesampainya di Masjid, aku langsung memasang sejadah yang dilapisi dengan koran bekas, karena posisi duduk berada dekat gerbang masjid.
Sebelum pelaksanaan sholat ied dan khutbah, panitia menggelar sambutan terlebih dahulu, dari mulai ketua DKM, hingga aparatur pemerintahan sekitar. Setelah sambutan selesai, lalu tiba waktu sholat ied, semua yang hadir melaksanakan sholat dengan khusyu.
"Assalaamualaikum warahmatulloh, assalaamu'alaikum warohmatulloh," ucap Imam, mengakhiri sholat.
Tak lama setelah pelaksanaan sholat, Sang Khotib naik ke atas mimbar, kala itu hatiku penuh penasaran, karena setiap kali melaksanakan sholat ied dari tahun ke tahun, selalu menunggu pesan moral dan pesan kedamaian yang disampaikan oleh seorang Khotib, apalagi iedul fitri sekarang berada ditengah dinamika politik negara yang tak kunjung usai.
Di pertengahan khutbah, sontak aku kaget dengan apa yang disampaikan oleh Sang Khotib.
"Tegakkan khilafah!! Khilafah 'ala manhajinnubuwwah," ungkap Khotib, dengan nada yang lantang saat khutbah.
Hatiku yang semula tenang, penuh kedamaian, wajah yang berseri, seketika berubah kesal. Dahi yang agak indah menawan, alis tebal kesayangan mamah, dengan mata yang sedikit elok sambil terpejam 'rada nundutan', seketika mengkerut kaget ketika terdengar kata, 'khilafah! khilafah! tegakan khilafah!'.
"Haduh kunaon teu make Khotib Kyai lokal, asana loba Kyai lokal anu leuwih mumpuni, aahhh Khotib nu ieu mah curiga eks HTI, hanas sholat ied didieu, nyaho kieu mah kajeun sholat ied di Istiqlal jeung Presiden Jokowi," kataku dalam hati penuh kesal.
Selesainya khutbah, sambil berjalan menuju rumah, dengan beralaskan sandal capit cap swallow, hati kesal itu belum juga sirna, kata 'khilafah' itu selalu terngiang dan mengganggu ketenangan pikiran. Dalam hatiku 'ngagerentes' proyek terbesar HTI yang bernama khilafah itu telah merasuk dalam sendi-sendi khutbah. Khutbah iedul fitri yang seharusnya memberikan pesan moral dan pesan kedamaian agar moment iedul fitri ini menjadi moment rekonsiliasi bangsa pasca pemilu, ditengah dinamika politik yang tak kunjung usai, telah dikotori dengan propaganda khilafah. Mimbar khutbah menjadi panggung propaganda bak artis yang menyedot perhatian publik. Sepertinya propaganda itu tak hanya dalam khutbah, propaganda itu selalu dilontarkan juga dalam pengajian ibu-ibu. Aku berharap semoga kedepan masjid itu kembali diisi oleh kyai lokal, para kyai yang mendidikku waktu kecil, memberikan nasihat-nasihat baik, kyai yang inklusif tidak eksklusif, kyai yang ramah terhadap semua orang walaupun beda agama, kyai yang merangkul, kyai yang tawadhu 'handap asor'.
"Robbij'al hadza baladan aaminan, yaa Allah, jadikanlah negara ini menjadi negara yang aman sentosa. Amien," ucapku penuh harap.
Sesampainya di rumah, bersalaman dan bermaaf-maafan dengan keluarga, tak lama kemudian membawa piring dan langsung menyantap ketupat dan opor ayam yang harum menggoda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar